Rabu, 21 Mei 2014

Etika Ber'Sosial Media'



Saat ini, kita dapat menemukan banyak aplikasi jejaring sosial. Jejaring sosial yang ada pun terus diperbaharui untuk memenuhi kebutuhan penggunanya. Tak jarang, satu orang dapat memiliki akun di lebih dari 3 aplikasi jejaring sosial. Umumnya, masyarakat lebih mengenal Facebook dan Twitter. Indonesia termasuk salah satu negara dengan pengguna Facebook terbanyak.
Jejaring sosial yang pada dasarnya mempermudah komunikasi antar penggunanya kini kian disalahgunakan. Banyak juga yang lupa apa tujuan penggunaannya.
Pada akun Facebook, setiap kali akan menyetujui permintaan pertemanan akan muncul pertanyaan “Apakah anda mengenal orang ini?”. Seringnya pertanyaan itu diabaikan. Bisa saja satu akun memiliki teman lebih dari 3000 orang. Namun hanya sekian ratus yang benar-benar ia kenal.
Dari banyaknya manfaat yang diberikan, sosial media juga memiliki sisi buruk yang berasal dari penggunanya. Berikut etika yang harus diperhatikan dalam jejaring sosial:

Senin, 12 Mei 2014

Senja



Senja akankah tersenyum lagi
Saat hujan tak lagi menyapa

Senja masihkah cerah
Kala langit menutup kelabu

Senja...

Senja...

Masih kah senja ingat ada pohon yang menantinya
Berharap bermandikan cahaya jingga
Hangat dalam peluk mesra

Masihkah senja peduli
Pada insan yang memandang
Jingga dipelupuk sisi
Bercengkrama dengan mereka
Melalui angin yang ia titipkan untuk menyapa lebih dekat

Senja
Ia tak lama
Namun senja tetaplah senja yang akan tergeser malam

Minggu, 27 April 2014

Sepintas Harap Esok




Hari ini masih libur. Sedikit udara segar sejenak ku jemput setelah menggua yang cukup lama. Kunjungan beralasan seorang teman merayu ku tuk menghirup udara jalanan. Tak jauh, hanya 10 menit jalan kaki. Dengan modal perut lapar jadilah sore ini ku lewati dengan junk food k*****t yang sukses menyiksa perut. Dibubuhi cerita panjang yang ngalor ngidul. Rasanya diriku berbeda hari ini. Lebih dingin atau tidak peduli, tidak antusias atau sok cool. Tak tau apa kata yang tepat.
Cerita masa lalu kawan, sukses buatku ngakak. Apakah tawa itu tulus atau tidak? Entah, akupun lupa. Mengetahui hal yang semakin jauh. Pikiran dan impian untuk masa depan. Bagaimana pendamping yang sebenarnya ia dambakan. Walau ia tidak memaksa harus demikian.  Bagaimana ia ingin melewati hari-harinya kelak. Sejenak ku merasa kami sebaya. Hanya saja, ia jauh lebih banyak tahu. Menyenangkan.
Sebagai penutup ,satu pesan darinya “Mulailah memikirkannya ya. Karna kalau ku lihat dirimu bakal lama ini.” Hahaha maksudnya “Mulailah memikirkan pernikahan atau kau benar-benar akan sangat menikmati sendiri terlalu lama.”

Selasa, 28 Januari 2014

Untuk Yang Semakin Dewasa



Hai...
Tanggal berapa sekarang? Bukankah ini hari pentingmu? Aku tak tahu apakah kau masih merayakannya seperti tahun-tahun sebelumnya. 
Dan keinginan untuk tidak mengucapkan selamat ulang tahun 'lagi' itu kalah.
Mungkin kau orang pertama yang pernah kuberitahu hal ini. Hal yang buat ku berhenti merayakannya. Hal yang buatku ingin berhenti mengucapkannya. Aku lupa kapan itu. Tapi yang pasti kau orang pertama yang tahu tentang ini.
Apa aku pernah bercerita tentang orang-orang baik yang kecewa karena ingin merayakan hari kelahiranku? Mungkin aku lupa menceritakannya atau memang sudah...aaah sungguh aku lupa. Baiknya memang tidak kita ceritakan lagi.

Kamis, 23 Januari 2014

Shattered Glass : Kejujuran, Poin Mutlak Seorang Jurnalis

Sutradara     : Billy Ray
Penulis        : H. G. Bissinger
Pemain        : Hayden Christensen, Peter Sarsgaard, Chloe Sevigny, Hank Azaria dan Steve Zahn

Sebuah film dari kisah nyata selalu menarik untuk kita tonton. Pertanyaan besar sebelum menontonya adalah apa yang membuatnya bagitu istimewa hingga hal tersebut di difilmkan. Begitu pula dengan film satu ini, yang di adaptasi dari kisah nyata seorang jurnalis di Amerika Serikat.

Kesan pertama yang saya dapat saat menonton film Shattered Glass adalah bahwa penonton akan disuguhkan sebuah cerita sukses seorang jurnalis.