
Belajar menjalani hidup dengan
cara hidup itu sendiri. Belajar menikmati keadaan diri dengan kesadaran. Juga
belajar memberi apa yang kita miliki.
Aku percaya Tuhan mempertemukan
kita dengan pola ini untuk banyak pencapaian. Tak hanya satu. Karena jika hanya
satu, maka kebersamaan kita pasti telah habis sejak lama.
---
Jujur aku benci memberikan gelar
sahabat untuk siapa pun lagi. Bahkan aku benci dengan gelar itu. Aku terpaksa
membongkar buku hidup untuk mencari penyebabnya. Ini yang kutemukan.
Aku trauma. Aku takut. Aku muak
dengan obral gelar sahabat. Aku benci kuantitas kosong yang mendasari pemberian
gelar itu.
Masing-masing kita pasti pernah mengalaminya. Kedekatan dengan orang lain di usia labil. Tak hanya satu atau dua kali, mungkin berkali-kali. Dan kalau dikumpulkan, tak sedikit orang yang pernah kita beri gelar itu.
Aku muak dengan perlakuan
menyenangkan saat berkumpul. Menempatkan diri tampak menyenangkan untuk bisa
selalu diterima. Andai aku bisa mengumpat dengan kutukan terburuk.
Berusaha menempatkan diri sama dengan yang lain agar tak tampak aneh. Memberikan pujian yang sebenarnya racun untuk membunuh diri perlahan. Dibiarkan saat bersalah bahkan masih diberikan pelukan namun mencibir saat aku tak melihat. Ada pula kalanya ditusuk dengan sandi yang seolah tak terbaca untuk sesuatu yang tak sebenarnya. Dibuang saat hembusan menebarkan berita yang bukan dari aku. Dipisahkan dari tempat dimana kudapatkan kejujuran. Aku muak dengan itu. terlalu banyak kepalsuan yang pernah singgah. Kepalsuan yang membuatku bodoh memberikan setia.
Aku muak menjadi boneka yang dikuras banyak demi kepentingan. Aku muak dengan topeng yang ingin ku lihat.
Hal itu mengajarkanku untuk jadi orang yang irit perasaan. Dalam artian sangat menjaga apa yang ingin dibagi pada orang lain. Walau terkadang masih mau bodoh berkorban untuk hal yang ku pikir ‘masa bodoh apa yang kulakukan, toh sekali saja’.
Masih memberi tempat untuk siapa saja yang ingin dekat, perhatian maupun diperhatikan. Tapi dengan jarak yang ku jaga ketat dengan tenangnya. Salah satu cara agar tak terbiasa memusatkan hidup pada siapa. Menjadikan orang bagian yang tak boleh hilang. Karena anggapan itu akan menghancurkan aku saat bagian itu tak ada ataupun sekedar cacat.
---
Kalian datang tanpa terduga.
Berbagi hal biasa. Tertawa dan cerita. Intensitas yang semakin tinggi. Ku pikir akan sama seperti yang sudah. Akan
berakhir jika tak ada lagi yang dicari atau ada kelompok lain yang lebih seru
atau juga bagian diri yang tak bisa diterima menjadi pintu keluar dari kumpulan
ini. Dan aku keluar menjadi aku yang sama seperti sebelumnya atau menjadi aku
dengan tambahan kecewa.
Ternyata belum.
Dari hitungan waktu yang ku buat, waktu kita belajar masih separuh dari waktuku dengan mereka yang menyebutku sahabat mereka. Bahkan tak sampai separuhnya.
Dengan keterbataanku bercerita dan berbagi. Ternyata aku cukup telanjang di depan kalian. Dengan diamku yang sering membuat kalian kesal. Aku belajar banyak. Sangat banyak.
Tentang kebenaran hidup yang ku cari. Tentang makna dan cerita. Tentang berbagi yang sebenarnya. Tentang isi tanpa peduli waktu. Tentang rasa tanpa mengenal siapa. Tentang berbicara yang menghasilkan lega. Tentang tangis yang tak pernah diucap. Tentang peluk hangat yang tak berwujud tindakan, tapi ketulusan. Tentang marah yang harus berwujud, bukan menjadi bangkai dalam hati. Tentang sembuh yang berasal dari diri.
Kalian bukan lagi sekedar pengajar. Tapi orang-orang yang ku lihat selalu ada di sisi untuk melangkah beriring. Penopang saat yang lain pincang. Menunggu saat yang lain berhenti.
Kalian sudah cukup jauh melibatkanku pada satu ikatan yang tak pernah ku ‘iya’ kan. Ikatan yang masih memberi ruang pada tiap orang didalamnya untuk tetap sendiri.
Kalian juga mengenalkanku pada sisi Puput yang tak pernah ku sadari. Membuatku menerima diri yang nyaman menjadi Puput yang ku inginkan. Menjadi Puput yang tak hanya diam dan belajar untuk didiamkan. Menjadi aku yang bahkan tak lagi kuingat setiap beda dengan yang lalu.
Terlalu banyak yang ku pelajari. Bahkan aku malu untuk sekedar mengatakan ‘Terima kasih, aku jadi mengerti’ rasanya sangat kurang.
Aku masih terbata untuk mengatakan semua rasa yang sulit diwujudkan dalam kata. Juga masih tak menemukan kata yang lebih tinggi dari ‘Terima Kasih’.
0 komentar:
Posting Komentar